Total Tayangan Halaman

Tampilkan postingan dengan label istiqomah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label istiqomah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Maret 2013

Masih sering LABIL-kah kita???



by: Heni (farohis '12)
Teman-teman pernah merasakan iman kita dalam keadaan sebaik-baiknya, berada dalam level tertinggi, ingat kehidupan akhirat, ingat akan dosa-dosa kita, takut akan siksa-Nya atau malah sangat turun drastis??? Terlena dengan kebahagiaan sesaat, berfoya-foya, bersombong atas diri sendiri, memanfaatkan waktu dengan kegiatan yang tidak bermanfaat, merasa seakan-akan kita akan hidup selamanya di dunia???

Hmm, itulah manusia. Kadang ada saatnya ingat, terkadang ada saatnya lupa. Mungkin ketika ada masalah, kita merasa lemah, tidak berdaya dan menginginkan tempat bersandar yaitu Allah SWT. Namun ada kalanya juga ketika hidup kita sudah berjalan normal, rezeki sudah berlebih, kebahagiaan sudah kita nikmati, cita-cita telah tercapai tapi ternyata kita justru lupa dengan Sang Pemberi. Kita malah berfoya-foya, menghambur-hamburkan uang, menghabiskan waktu dengan kegiatan yang tidak bermanfaat, lupa tidak bersyukur bahkan terkadang kita terlena akan aktifitas kita sehingga meninggalkan kewajiban dan ibadah kita. Astagfirullah.

Menurut artikel yang pernah aku baca, pengaruh naik turunya iman kita banyak sekali. Ada pengaruh dari dalam diri kita sendiri, ada juga pengaruh dari luar, seperti lingkungan tempat tinggal, teman bergaul dll.

Pertama pengaruh dari dalam diri kita sendiri, misalnya ketika kita mengikuti pengajian-pengajian, kegiatan yang di dalamnya terdapat acara renungan (mungkin ini sudah sering kita alami baik dalam kegiatan-kegiatan di SMA dulu, maupun kegiatan di kampus teman-teman saat ini) saat kita hanyut dalam kekhusyukan beribadah, ingat mati, ingat akan dosa-dosa yang selama ini telah di lakukan maka yang kita rasakan adalah selalu ingat pada-Nya.

Sebaliknya kita akan lupa saat keinginan kita, do’a dan harapan kita telah dikabulkan-Nya, rezeki yang cukup, maka kita terlena dan lupa akan kewajiban-kewajiban kita kepada-Nya. Disitulah saat kondisi iman kita naik turun yang pengaruhnya dari dalam diri kita sendiri.

Yang kedua, pengaruh dari luar. Misalnya, saat kita mendengarkan ceramah, membaca buku-buku islami, melihat bencana alam di sekitar kita maka iman kita pun tumbuh seiring tergugahnya jiwa rohani kita. Sebaliknya, ketika teman-teman kita mengajak bersenang-senang, larut dalam kebersamaan melaksanakn hobi, membicarakan keburukan-keburukan orang lain maka setan akan dengan mudahnya membisikan ajakan-ajakan untuk meninggalkan kewajiban dan mengacuhkan larangan-Nya. Disinilah pengaruh dari luar berperan.
Nah, apakah kita temasuk orang yang masih sering merasa ”LABIL” ???
Iman kita masih sering naik turun??
Semua jawaban ada pada diri teman-teman sendiri.

Lalu, bagaimana CARA agar keimanan kita tersebut tidak terlalu sering turun??

Lagi-lagi menurut artikel yang aku baca (Maklum, masih membutuhkan banyak referensi untuk menjadikan tulisan ini bermanfaat :D). Masih banyak lagi tentunya cara-cara yang bisa kita lakukan untuk menyikapi keadaan LABIL ini (teman-teman bisa searching sendiri..hehehe)

Maka jawabanya adalah STABILKAN tingkat iman kita pada tingkat yang mendekati tinggi, upayakan tingkat iman terendah kita pada posisi pertengahan, dan selebihnya raihlah tingkat iman tertinggi kita dengan selalu bercermin pada orang-orang sholeh disekitar kita.

”Iman itu kadang naik kadang turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan la ilaha illallah”(HR.Ibnu Ibban)

Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung karena kesabaranya berjuang menjaga iman dan mempertahankan iman. AmiinKeep Istiqomah KAWAN. :)

Selasa, 12 Februari 2013

Masihkah Istiqomah?


by: Sigit (farohis '12)
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami adalah الله kemudian mereka meneguhkan (pendirian mereka), maka malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati dan bergembiralah kamu dengan (mendapatkan) surga yang telah dijanjikan الله kepada kamu (QS : Fushilat 30)."

Sempat tersentak setelah mendengar nasehat mas Musholli, mantan mas’ul KMT(Keluarga Muslim Teknik) X4 dalam sambutannya pada launching KMT X6 Sabtu, 12 Januari kemarin. “Ada dua tipe orang yang menjadi aktivis dakwah kampus. Tipe pertama adalah orang yang menjadikan dakwah sebagai aktivitasnya semata. Ia cukup senang bila waktunya terisi dengan dakwah di kampus, “ ujar beliau.

Namun dakwahnya berhenti ketika ia menjadi pengurus organisasi dakwah tersebut. Ketika jadi pengurus, tampak keren dengan jilbabnya yang gedhe-gedhe, baju muslim serta atribut-atribut lain yang seakan ingin menyampaikan pesan “Isyhaduu bi anna muslimun”. Namun setelah selesai masa tugasnya sebagai pengurus perlahan-lahan atribut-atribut tersebut mulai ditinggalkan. Yang lebih parah lagi bila sampai idealisme yang dulu dipegang teguh perlahan-lahan runtuh, dan mulai hidup seperti orang-orang sekitarnya, kembali menjadi orang biasa.

Yang sering dhuha jadi jarang-jarang dhuha. Yang dulunya sering tahajjud jadi tak pernah tahajjud, parahnya lagi bila subuhnya mulai telat karena bangun kesiangan. Yang dulunya ‘gadhul bashar’(menjaga pandangan) jadi tak malu mendekati lawan jenis. Seakan-akan tak pernah menjadi aktivis dakwah, semuanya izzahnya hilang tak membekas.

Antum termasuk yang demikian? Semoga tidak!!! Tipe kedua adalah yang benar-benar serius menjadikan dakwah ini tujuan hidupnya. Setelah keluar dari organisasi dakwah yang satu, ia akan beralih mencari ‘ladang amal’ yang lain. Berhenti jadi pengurus bukan berarti berhenti berdakwah.

Bagaimana tidak, kita bukan siapa-siapa. Kita bukan ‘veteran’ perang badar yang telah dijamin mendapat ampunan serta surgaNya. Siapa yang bisa menjamin kita akan masuk surga? Padahal cuma jadi ‘veteran’ organisasi dakwah yang kontribusi kita pun sangat kecil bila dibanding perjuangan muslimin lain di medan jihad. Lalu siapa yang menjamin kita akan selamat dari adzab pedihNya??

Bukankah amal itu dilihat dari akhirnya?? Apalah artinya tampak ‘keren’ saat jadi aktivis dakwah, namun pada akhirnya hanya jadi seperti orang biasanya dan membuang jauh-jauh semua idealismenya. Memang tidak mudah untuk istiqomah. Sampai-sampai surat Hud membuat Nabi SAW beruban(karena menyampaikan perintah beristiqomah).
"Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar Sebagaimana diperintahkan kepadamu. "(QS Hud 112)

Yaa ikhwah, jangan bangga bila ‘pernah’ menjadi aktivis dakwah! Yang kita lakukan masih belum seberapa. Sudahkah kita merasa aman dari adzabNya yang pedih? Bahkan seorang Umar r.a. saja menangis karena takut amalnya tidak diterima. Lalu apa yang membuat diri ini merasa cukup beramal?

Yaa ikhwah, sadarlah dengan atau tanpa kehadiranmu gerbong dakwah ini akan tetap berjalan. Kemenangan itu pasti. Yang jadi pertanyaan apakah engkau terlibat di dalam perjuangannya? Atau justru mundur dan berbalik ke belakang?
“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali…”.
(an nahl :92)
Sigit Arif Anggoro
TF UGM ’12