Total Tayangan Halaman

Tampilkan postingan dengan label dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dakwah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Februari 2013

KORELASI ANTARA BELAJAR, ORGANISASI, DAN DAKWAH


by: Danang (farohis '12)


ASSALAUMALAIKUM.....
اسلامعليكم ورحمة الله وبركاته


BELAJAR
ORGANISASI TANGGUNG JAWAB
DAKWAH

Seperti halnya sedekit perumpamaan di atas, maka sedah jalas bahwa ketiganya itu merupakan tanggung jawab. Ketiganya merupakan tanggung jawab kita sebagai pelajar, aktifis, serta kaum muslim.
BELAJAR, sudah pasti kan, kita sebagai pelajar memiliki kewajiban belajar yang kita pertanggung jawabkan kepada kedua orang tua kita masing-masing. Yaa…. Merekalah yang telah bersusah payah bekerja membanting tulang untuk bisa mendapatkan biaya buat kita sekolah, mereka ingin kita jadi anak yang berpengetahuan, pandai, ahli yang nantinya ilmu itu akan bisa membuat hidup kita bisa lebih baik dari keadaan kedua orang tua kita sekarang.

Dan memang benar bahwa kewajiban utama kita sebaga pelajar adalah belajar, tapi yang menjadi masalah adalah, apakah kita kan jadi orang yang biasa-biasa saja yang cumba ahli dalam ilmu-ilmu eksak. Tidakah kita ingin mengembangkan kemampuan soft skill kita, yaitu dengan berorganisasi.

Dan sebagai seorang muslim, kita juga memiliki kewajiban untuk berdakwah, menyampaikan ilmu yang kita miliki kepada yang lain. Dan untuk bisa melakukan fungsi organisasi dan dakwah< maka ROHIS adalah tempat yang tepat untuk melaksanakan fungsi tersebut secara bersamaan.

7. Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.

• •
18. hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, emnunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan Termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.

Ada tujuh golongan yang akan Allah naungi mereka pada hari tiada naungan selain naungan Allah yaitu: … -diantaranya-: “dan seorang yang terikat (hatinya) dengan masjid ketika ia keluar hingga ia kembali ke masjid …”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ra )

Intinya,,, sebagai pelajar yang memiliki ketiga tanggung jawab tersebut, kita harus berusaha semaksimal mungkin dalam memanagement waktu kita…. Satu kesadaran bahwa itu adalah TANGGUNGJAWAB, jadi hanya satu kata yang ada yaitu “just do it”.
Jika kata MARIO TEGUH, “waktu tidak dapat mengubah apapun, yang terjadi di dalam waktu itulah yang mengubah; Semua orang akan menua, tapi tidak setiap jiwa akan berubah menjadi pribadi yang kuat, tegas, dan mampu; Orang muda yang malas terlibat dalam hal-hal yang baik, tapi rajin bermalas-malasan, akan menajdi orang tua yang tak berguna yang takbisa dipekerjakan, ; Bahkan yang ingin memebantunya pun akan sulit menemukan cara untuk membantunya. Maka hormatilah waktu, agar kehidupan menghormatimu”

"hehe>>> maaf nih<< agak nglantur dikit essaynya :) "
jazzakumullah
wassalamualaikum

Selasa, 12 Februari 2013

Masihkah Istiqomah?


by: Sigit (farohis '12)
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami adalah الله kemudian mereka meneguhkan (pendirian mereka), maka malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati dan bergembiralah kamu dengan (mendapatkan) surga yang telah dijanjikan الله kepada kamu (QS : Fushilat 30)."

Sempat tersentak setelah mendengar nasehat mas Musholli, mantan mas’ul KMT(Keluarga Muslim Teknik) X4 dalam sambutannya pada launching KMT X6 Sabtu, 12 Januari kemarin. “Ada dua tipe orang yang menjadi aktivis dakwah kampus. Tipe pertama adalah orang yang menjadikan dakwah sebagai aktivitasnya semata. Ia cukup senang bila waktunya terisi dengan dakwah di kampus, “ ujar beliau.

Namun dakwahnya berhenti ketika ia menjadi pengurus organisasi dakwah tersebut. Ketika jadi pengurus, tampak keren dengan jilbabnya yang gedhe-gedhe, baju muslim serta atribut-atribut lain yang seakan ingin menyampaikan pesan “Isyhaduu bi anna muslimun”. Namun setelah selesai masa tugasnya sebagai pengurus perlahan-lahan atribut-atribut tersebut mulai ditinggalkan. Yang lebih parah lagi bila sampai idealisme yang dulu dipegang teguh perlahan-lahan runtuh, dan mulai hidup seperti orang-orang sekitarnya, kembali menjadi orang biasa.

Yang sering dhuha jadi jarang-jarang dhuha. Yang dulunya sering tahajjud jadi tak pernah tahajjud, parahnya lagi bila subuhnya mulai telat karena bangun kesiangan. Yang dulunya ‘gadhul bashar’(menjaga pandangan) jadi tak malu mendekati lawan jenis. Seakan-akan tak pernah menjadi aktivis dakwah, semuanya izzahnya hilang tak membekas.

Antum termasuk yang demikian? Semoga tidak!!! Tipe kedua adalah yang benar-benar serius menjadikan dakwah ini tujuan hidupnya. Setelah keluar dari organisasi dakwah yang satu, ia akan beralih mencari ‘ladang amal’ yang lain. Berhenti jadi pengurus bukan berarti berhenti berdakwah.

Bagaimana tidak, kita bukan siapa-siapa. Kita bukan ‘veteran’ perang badar yang telah dijamin mendapat ampunan serta surgaNya. Siapa yang bisa menjamin kita akan masuk surga? Padahal cuma jadi ‘veteran’ organisasi dakwah yang kontribusi kita pun sangat kecil bila dibanding perjuangan muslimin lain di medan jihad. Lalu siapa yang menjamin kita akan selamat dari adzab pedihNya??

Bukankah amal itu dilihat dari akhirnya?? Apalah artinya tampak ‘keren’ saat jadi aktivis dakwah, namun pada akhirnya hanya jadi seperti orang biasanya dan membuang jauh-jauh semua idealismenya. Memang tidak mudah untuk istiqomah. Sampai-sampai surat Hud membuat Nabi SAW beruban(karena menyampaikan perintah beristiqomah).
"Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar Sebagaimana diperintahkan kepadamu. "(QS Hud 112)

Yaa ikhwah, jangan bangga bila ‘pernah’ menjadi aktivis dakwah! Yang kita lakukan masih belum seberapa. Sudahkah kita merasa aman dari adzabNya yang pedih? Bahkan seorang Umar r.a. saja menangis karena takut amalnya tidak diterima. Lalu apa yang membuat diri ini merasa cukup beramal?

Yaa ikhwah, sadarlah dengan atau tanpa kehadiranmu gerbong dakwah ini akan tetap berjalan. Kemenangan itu pasti. Yang jadi pertanyaan apakah engkau terlibat di dalam perjuangannya? Atau justru mundur dan berbalik ke belakang?
“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali…”.
(an nahl :92)
Sigit Arif Anggoro
TF UGM ’12