Farohis SMA 1 Blora

Total Tayangan Halaman

Jumat, 09 Agustus 2013

Memang Tak Mudah untuk Mengingatkan



Ada yang berbeda dari Ramadhan tahun ini. Bila biasanya Ramadhan dengan keluarga di Blora, kali ini hampir sebulan saya habiskan hari-hari Ramadhan di Jogja, lebih tepatnya di pondok pesantren Al Barokah tempat saya berteduh dan menimba ilmu agama. Memang Ramadhan ini di pondok saya semakin padat kegiatannya. Mulai dari ngaji kitab, ngaji qur’an, tarawih, tadarrus, hingga beberapa perlombaan yang diselenggarakan panitia Ramadhan pondok.
Kebetulan untuk tahun ini saya pribadi juga diminta membantu kepanitiaan yakni di bagian keamanan. Tugasnya sebenarnya simpel, hanya ‘ngoprak-oprak’(mengingatkan) santri lain untuk segera mengikuti berbagai kegiatan pondok. Mulai dari membangunkan sahur, mengingatkan Shubuh berjamaah, mengingatkan ngaji, tarawih, dan kegiatan-kegiatan Ramadhan lain yang sudah disiapkan panitia acara. Dengan tugas lainnya membuat jadwal piket lebaran.
Intinya saya harus memastikan santri mengikuti rangkaian kegiatan Ramadhan tepat pada waktunya. Di sini yang menjadi tanggung jawab saya hanya teman-teman sekomplek, yakni komplek Al-Fatih, sementara untuk komplek lain sudah ada penanggungjawab keamanannya masing-masing. Karena berjalannya ketika sudah mulai acara, di awal-awal rapat tidak ada kesulitan, tidak seperti bagian acara yang harus mengkonsep detail acara, atau humas yang harus mengurus perizinan dan menghubungi jamaah terkait ta’jil dan sejenisnya, kita tenang-tenang saja tak ada persiapan berarti karena memang tak membutuhkan persiapan.
Awalnya saya kira tugasnya akan ringan-ringan saja, karena memang tak serumit panitia lain seperti yang dari acara, humas, atau konsumsi, sangat simpel dan jelas tugas yang harus kami lakukan. Namun ternyata setelah dijalani, tak semudah yang dibayangkan. Butuh kesabaran ekstra untuk konsisten keliling ke kamar-kamar di komplek kami dan mengingatkan penghuni-penghuninya untuk mengikuti kegiatan-kegiatan pondok. Bagaimana tidak setiap hari harus keliling membangunkan sahur, shubuh, ngaji sore, ngaji ba’da maghrib, tarawih.
Untuk sehari saja paling tidak lima kali kami harus keliling mengingatkan teman-teman santri. Padahal tak hanya sehari, setiap hari sejak awal Ramadhan sampai akhir kami harus berulang-ulang mengerjakan tugas ini. Tentunya membutuhkan kesabaran lebih, dan tidak boleh bosan-bosan mengingatkan karena itulah yang sudah menjadi tugas keamanan.
Mungkin akan sedikit mudah bila yang diingatkan tanggap  dan langsung berangkat ketika kita ingatkan namun  masalahnya tidak semua santri bisa demikian. Pada kenyataannya kita harus menghadapi watak santri yang berbeda-beda. Ada yang ketika diingatkan langsung tanggap, tapi kebanyakan tidak menghiraukan, dan tak mau langsung bergerak mengikuti kegiatan pondok. Meski sudah diingatkan tetap saja bermalas-malasan tak mengindahkan ajakan kami, inilah yang terkadang membuat capek, apalagi setiap hari harus berhadapan dengan hal demikian.
Ketika kita coba memberi contoh dengan hadir lebih awal dikatakannya “Keamanan kok datang duluan? harusnya belakangan datangnya ingatkan teman-teman dulu baru berangkat!”. Ketika kita coba mengingatkan dengan lembut malah tak dihiraukan, dikatakannya “Kalau mengingatkan yang tegas donk! Kalau lembek gitu nggak akan dihiraukan”. Ketika kita coba untuk lebih tegas, hingga kadang memukul santri dengan sajadah malah dimarahi dan dikatakannya “Kalau mengingatkan yang sopan, tak perlu keras-keras!”. Lalu sebagian mencoba bijak menasihati “satu tauladan lebih baik dari seribu ucapan, daripada mengingatkan terus seperti itu lebih baik kamu beri contoh berangkat duluan!” Padahal sebelumnya sudah mencoba demikian dan hasilnya pun nihil.
Selalu berputar-putar seperti itu, semua yang kita kerjakan seakan tidak ada benarnya. Kalau mencoba memberi contoh, berangkat duluan dikatakan melalaikan tugas. Kalau mengingatkan secara lembut, dikatakan tak tegas. Kalau mengingatkan dengan tegas dikatakan tak sopan malah dikatakan lebih baik memberi contoh baik daripada mengingatkan terus. Tidak ada benarnya, semuanya terlihat salah dalam pandangan mereka.
Pada akhirnya saya pun belajar. Memang demikianlah karakteristik manusia ketika diajak atau diingatkan pada kebaikan. Tidak semuanya akan sanggup menerima dengan baik. Meskipun telah kita gunakan metode terbaik, akan selalu saja alasan untuk mengorek-ngorek cela kita. Dan pada akhirnya bila menuruti perkataan manusia tidak ada yang cukup benar untuk dilakukan.
Tugas kita sebenarnya hanyalah mengingatkan, dan terus mengingatkan. Adanya penolakan sudah menjadi hal yang wajar, dan jangan dijadikan alasan untuk berhenti mengingatkan. Tidak usah pedulikan komentar mereka, yang penting kita sudah mencoba mengingatkan dan menggugurkan kewajiban. Adapun mengenai hasil biar Allah yang menentukan, karena bukan hak kita pula memberi hidayah pada orang yang kita kehendaki.
Adanya penolakan hendaknya jangan terlalu dijadikan beban pikiran, susah sendiri jadinya. Tetap tenang dan terus mengingatkan, insya Allah dengan keistiqomahan kita itulah lama-kelamaan hati mereka bisa luluh dan beralih mengindahkan peringatan. Tugas kita hanya mencoba semaksimal mungkin untuk mengingatkan, jangan karena ada penolakan kita jadi futur dan merasa usaha kita tak ada gunanya. Sedikit banyak pasti berguna, entah sekarang atau nanti kita jangan tergesa-gesa mengharapkan hasilnya, sekali lagi fokus pada tugas bukan hasil.
Asal tugas sudah kita kerjakan dengan baik, maka sisanya tinggal tawakkal. Dan jangan lupa juga tetap didoakan, karena doa adalah senjata seorang mukmin. Setelah mencoba istiqomah, pada akhirnya terbukti beberapa anak ada yang mulai simpati bahkan akhirnya membantu kami untuk mengingatkan santri-santri lainnya. Inilah buah dari kesabaran itu, dengan terus bersabar ketika menghadapi berbagai gangguan dalam mengingatkan lama-kelamaan orang yang melihat kita akan bersimpati dan beralih mendukung usaha kita.
Apa yang kita lakukan ini tentu belum ada apa-apanya dibandingkan perjuangan Rasulullah dalam mendakwahkan islam pada ummatnya. Bahkan ia harus bersabar dalam mendakwahi mereka yang jelas-jelas masih dalam kekafirannya. Tak sekedar penolakan, bahkan sampai cemoohan, teror fisik, hingga upaya-upaya pembunuhan pun telah beliau alami. Namun semua itu tak membuatnya sedikit pun berkeinginan untuk berhenti berdakwah. Bahkan ketika ditawari harta, tahta dan wanita untuk menghentikan dakwahnya pun ditolaknya.
“Wahai paman, meski pun mereka meletakkan matahari di kananku dan bulan di kiriku agar aku berhenti dari da’wah ini, pastilah tidak akan kulakukan. Hingga nanti Allah Subhana Wa Ta’ala menangkan da’wah ini atau aku mati karenanya”, sabda beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Alangkah malunya diri ini bila melihat perjuangan beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Malu sekali bila baru mengingatkan sedikit kita sudah mundur karena mendapat penolakan. Malu bila berhenti mengingatkan hanya karena tak mendapatkan jawaban dari seruan.
Alhamdulillah, saya belajar banyak Ramadhan ini. Mulai sekarang tak perlu risau lagi ketika mendapat penolakan saat mengingatkan dan mengajak pada suatu kebaikan. Karena memang dakwah tidaklah cukup sekali dua kali mengingatkan namun sebuah proses panjang untuk mengubah dan memperbaiki pribadi individu-individunya. Ketika ditolak pun jangan pernah menganggap kita telah gagal sepenuhnya, dan telah sia-sia upaya kita karena barangkali dengannya suatu hari nanti hatinya akan luluh dan beralih mengerjakan kebaikan yang kita serukan.
 Batu yang keras pun bisa retak dengan tetesan-tetesan air yang berulang-ulang, seperti itu pula hati yang keras, dengan sedikit demi sedikit peringatan barangkali bisa berubah. Toh kalau pun pada akhirnya tak berubah, setidaknya Allah telah mencatat amal kita dan telah gugurlah kewajiban kita. Mudah-mudahan Allah anugerahkan kepada kita hidayah-Nya hingga senantiasa tergerak untuk melakukan perbaikan. Wallohua’lam bishshowwab ^^
“Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.”
“Maka jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah (Muhammad), ‘Cukuplah Allah bagiku; tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy (singgasana) yang agung.”
Sigit Arif Anggoro



Diposting oleh farohis di 23.18 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: mengingatkan, sabar

Kamis, 08 Agustus 2013

Selamat Idul Fitri 1434 H


Diposting oleh farohis di 09.23 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: idul fitri

Selasa, 06 Agustus 2013

Bukber Farohis: Semoga Menjadi Awal Perbaikan

      Alhamdulillah, Selasa, 6 Agustus kemarin kita bisa dipertemukan lagi dengan rekan-rekan seperjuangan alumni Rohis SMA 1 Blora di rumah mas Siswanto, Jalan Gunung Wilis 49, Tempelan, Blora. Lumayan banyak yang hadir, ada dua puluhan lebih alumni yang datang dari berbagai angkatan berbeda dari yang lulusan 2006 sampai yang masih kelas 2 SMA.
      Ternyata SDM kita banyak ya? Selama ini kita kurang komunikasi dan koordinasi, jujur saya sendiri beberapa ada yang belum kenal dengan kakak-kakak alumni terutama yang angakatan atas. Terkadang ketika alumni pulang mereka bingung bila ingin berkunjung ke SMA harus berkoordinasi dengan siapa, sebaliknya terkadang kami yang pengurus aktif ini juga bingung ketika hendak mencarikan alumni yang kiranya masih bisa datang dan memberikan pembimbingan ke adik-adik pengurus Rohis. Ah, yang lalu biarlah berlalu, mudah-mudahan pertemuan kemarin bisa menjadi awal untuk koordinasi yang lebih baik lagi antar alumni.
      Sebenarnya acara dimulai sore pukul 16.00 WIB, tapi berhubung kami ada undangan rapat fasmaba, baru bisa sampai di rumah mas Sis hampir pukul 17.00. Sudah ditunggu dengan ikhwah lain di sana, dan kita pun mulai berkenalan lagi satu persatu. Karena mulainya telat, kita baru berbincang-bincang sedikit adzan Maghrib sudah berkumandang. Pada akhirnya pembicaraan kita tunda untuk buka puasa dan sholat Maghrib. Ba'da sholat maghrib tuan rumah sudah menyediakan berbagai hidangan buka puasa untuk kita semua, Alhamdulillah semoga dibalas dengan kebaikan yang berlipat :)
      Setelah makan, kami lanjutkan diskusi membahas rencana dan strategi untuk kerja kita ke depannya. Sebenarnya memang tujuan awal bukan sekedar kumpul, dan temu kangen memang sekaligus digunakan untuk membahas koordinasi kita sesama farohis. Mau bagaimana lagi, kita memang organisasi dengan anggota yang tersebar di mana-mana, jarang bisa bertemu. Hanya di momen-momen libur lebaran seperti inilah kita bisa dipertemukan kembali, jadi waktu yang singkat ini harus kita gunakan sebaik mungkin untuk membahas rencana kerja kita ke depan nanti.
     Karena sudah memasuki waktu Isya' kami pun berembug mau melanjutkan diskusi atau isya' dan tarawih dulu. Namun karena memang mendesaknya diadakan diskusi ini, dan juga tidak memungkinkan bila dilakukan ba'da tarawih, mengingat yang akhwat tidak bisa pulang terlalu larut maka diputuskan kita sholat isya' saja, tanpa tarawih. Ba'da Isya' kami mulai lanjutkan diskusi membahas farohis.
    Dari permasalahan yang diuraikan mas Teguh, diantaranya ada rencana pembagian tugas masing-masing tingkat, tingkat 1-3 dan alumni, kemudian juga terkait keberadaan alumni yang memang beragam, ada yang mahasiswa baru, ada yang angkatan atas, ada yang sudah kerja di luar kota, ada yang di Blora. Memang sebenarnya yang menjadi masalah adalah pada liqo'an adik-adik pengurus Rohis, dari kalangan kami yang mahasiswa ini tentunya sulit untuk bisa terus hadir tiap minggunya untuk mengisi liqo', dari mas Teguh sendiri mengusulkan dibuat bergantian, digilir dari rekan-rekan alumni yang ada.
    Namun setelah berdiskusi lebih jauh, kita akhirnya menyimpulkan beberapa solusi, yakni dengan mengaktifkan lagi peran alumni yang di Blora untuk mengisi liqo' adik-adik Pengurus baik kelas 2 maupun kelas 3. Karena kebetulan sekarang mas Sis berdomisili di Blora, maka beliau lah yang coba kita mintai bantuan untuk mengisi liqo' lagi pada adik-adik pengurus, yang ikhwan dengan mas Siswanto, yang akhwat dengan mbak Ita. Karena memang intinya yang dibutuhkan mereka adalah pembimbingan penuh, bahkan sampai hal teknis perlu dibimbing, untuk itu hadirnya murabbi yang bisa intens hadir sudah menjadi keniscayaan.
    Lalu apa peran rekan-rekan alumni yang lain? Kita bisa berperan dalam membantu merancang kaderisasi mereka dan membantu mengisi di event-event tertentu, maupun merancang kegiatan yang kiranya bisa menarik kader dan menjaga agar tetap mencintai kegiatannya di Rohis SMA 1 Blora ini. Alumni yang di Blora sebagai source, kita yang kuliah ini bisa menyumbangkan ide-ide kreatifnya untuk menarik dan menjaga kader, mungkin juga membantu mereka di masalah organisasinya. Kalau saya tangkap intinya kita yang mahasiswa ini yang merancang event-event pentingnya, sedangkan alumni yang di Blora untuk yang memberi pembimbingan secara kontinyu.
    Selain itu pembuatan database alumni juga kiranya diperlukan. Dengannya kita bisa mengetahui kapasitas masing-masing alumni, dan kontribusi yang bisa disumbangkan pun bisa berbeda-beda. Mungkin nanti yang sudah bekerja bisa menyumbangkan dananya, yang mahasiswa menyumbangkan ide, dan mengisi motivasi saat pulang ke Blora, bahkan bisa juga menyumbangkan ilmunya lewat tulisan. Pengaktifan kembali web rohis sangat diperlukan agar kita bisa terus mengupdate kegiatan apa saja yang sudah dilaksanakan atau hendak dilaksanakan Rohis. Kalau dari usulan mas Sis nanti webnya dijadikan satu saja antara Rohis dan farohis, mungkin bisa dibuat kolom farohis dari web Rohis.
    Sedangkan untuk komunikasi sesama alumni mungkin ke depan kita bisa gunakan grup facebook farohis. Harapannya nanti bisa lebih aktif lagi untuk mengupdate kegiatan-kegiatan masing-masing. Mudah-mudahan dari pertemuan singkat ini dapat menjadi langkah awal untuk membantu memperbaiki Rohis SMA 1 Blora, baik organisasi maupun kader-kadernya agar dakwah di SMA 1 dapat semakin baik dan berkembang.. Semoga diberi kelancaran.. Aamiin (Sigit)

Diposting oleh farohis di 18.30 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Kamis, 01 Agustus 2013

Ramadhan Bulan Tarbiyah


by: Sigit
Kehadiran bulan Ramadhan merupakan anugerah besar yang telah Allah berikan kepada umat manusia. Inilah bulan diturunkannya Qur’an, dilipatgandakannya pahala, dibukanya lebar-lebar pintu taubat, serta dibukanya pintu surga. Inilah kesempatan yang tepat untuk benar-benar bertaubat, inilah momen yang tepat untuk semakin mendekat kepada-Nya. Inilah bulan tarbiyah, dimana kita di’gembleng’ sebulan penuh untuk mengoptimalkan amal shalih dan menjauhi segala perbuatan yang tidak bermanfaat lebih-lebih maksiat. Banyak hal yang dapat kita ambil pelajaran dari kehadiran bulan Ramadhan ini.
Di bulan inilah kita dilatih untuk sabar. Mulai dari sabar menahan makan, minum dan segala perkara yang membatalkan dari terbitnya fajar sampai terbenam matahari. Sabar untuk menjauhi segala hal yang bisa mengurangi pahala puasa. Sabar dalam memperbanyak amal-amal shalih, seperti memperbanyak tadarrus, sholat malam (tarawih), dan ibadah-ibadah lain yang pada umumnya tidak kita lakukan di bulan-bulan selain Ramadhan.
Semua orang yang beriman pasti diuji kesabarannya, tak terkecuali para Nabi dan Rosul, justru mereka yang paling berat ujiannya dan paling besar kesabarannya. Kualitas keimanan seseorang dapat dilihat sejauh mana ia mampu bersabar ketika diuji. Sedangkan sabar sendiri dibagi tiga, sabar dalam menjalankan ketaatan, sabar dalam menjauhi maksiat dan sabar ketika ditimpa musibah. Tentu bila dibandingkan ujian para Nabi, perintah puasa sebulan penuh ini tidak ada apa-apanya, kesabaran yang dilakukan pun masih jauh dari kesabaran mereka dalam mengemban risalah.
Setidaknya ini memberikan gambaran, bahwa memang seorang muslim yang ingin mulia di akhiratnya harus mampu bersabar dalam segala hal di dunianya. Dunia ini bukan tujuan akhir, inilah sarana kita untuk menanam, beramal shalih, berjihad di jalan-Nya dan mencari keridhoan-Nya. Bagi seorang muslim lelah sebentar di dunia tidak menjadi masalah karena di akhirat nanti disempurnakan balasan atas segala amal shalihnya, lebih baik sabar sekarang daripada menyesal esok hari. Hanya dengan bersabar menempuh jalan-Nya inilah kita mampu meraih kebahagiaan sempurna di akhirat nanti.
Selain sabar kita juga belajar ikhlas di bulan ini. Karena di bulan inilah sebulan penuh kita puasa, sedang puasa itu sendiri tidak ada yang tahu kecuali kita dan Allah. Bahkan Allah sendiri yang menilai dan memberi pahala atas puasa kita. Bila kita mau mungkin kita bisa diam-diam membatalkan saat orang lain tak melihat. Namun nyatanya kita tetap bertahan meski tidak ada yang melihat karena memang puasa kita bukan sesuatu yang hendak dipamer-pamerkan melainkan hanya untuk Allah semata.
Di sinilah kita belajar muraqabah, merasa selalu diawasi oleh-Nya. Meskipun tidak ada yang melihat kita tetap menjaga puasa kita karena tahu Allah sendiri yang mengawasi kita dan akan menilai puasa kita. Di sinilah kita belajar ihsan, yakni engkau beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya, bila tidak mampu melihat-Nya maka sesungguhnya Dia(Allah) melihat kita.
Perasaan merasa selalu diawasi inilah yang begitu penting untuk dimiliki setiap insan. Karena dengannya lah kita akan tetap teguh berbuat benar meski tidak ada orang yang melihat. Dengannya lah kita tetap jujur dan tidak mencontek saat ujian meski tidak ada petugas yang melihat. Dengannya kita tetap jujur dan tidak korupsi ketika diberikan suatu amanah yang berkaitan dengan dana. Dengannya seorang pedagang tidak mengurangi timbangannya untuk mencari keuntungan secara curang. Semuanya tetap berbuat adil meski tidak ada yang melihat karena tahu sebenarnya Allah senantiasa melihat amal-amal kita.
Selain itu kita juga belajar untuk lebih peka di bulan Ramadhan ini. Dengan langsung merasakan laparnya hari-hari puasa kita harusnya sadar, betapa tidak mudahnya apa yang dirasakan mereka yang kekurangan. Kita berpuasa dari fajar hingga maghrib, lalu setelahnya bisa berbuka dengan makanan yang enak-enak? Namun bagaimana dengan kondisi mereka?
Mereka lapar karena memang tak ada yang bisa dimakan, pun kalau sudah bisa makan hanya makanan seadanya yang bisa mengganjal perutnya. Kita puasa hanya sebulan ini, sedang mereka berpuasa di bulan-bulan lainnya karena memang tak punya sesuatu untuk dimakan. Kita puasa justru menghamburkan banyak uang untuk sekedar berbuka, namun mereka di sana justru tidak terpikirkan. Sungguh puasa kita ini tidak ada apa-apanya dibandingkan penderitaan mereka di bulan-bulan lain.
Maka dari itulah setelah puasa disyariatkan zakat, supaya kita sadar dalam harta kita ada hak mereka yang membutuhkan. Di luar sana ada orang-orang yang masih membutuhkan uluran tangan kita. Harusnya kita mampu disadarkan dengan puasa ini, namun bila sampai akhir tidak sadar itu berarti kita masih kurang peka, kurang mampu menangkap hikmah-hikmah dibalik syariat puasa Ramadhan ini. Di sinilah kita diingatkan untuk lebih peka, membantu dan menyantuni yang kekurangan, bukannya menumpuk harta yang telah Allah berikan.
Begitu banyak pelajaran yang bisa diambil dari Ramadhan. Kita banyak berlatih di bulan ini, maka alangkah ruginya orang yang sudah dilatih namun masih belum mampu berubah. Alangkah ruginya yang tidak mampu mengambil pelajaran dan tidak mampu berubah setelah dididik di bulan Ramadhan. Semoga kita termasuk yang mampu mengambil pelajaran dan berubah lebih baik lagi pada hari-hari setelah Ramadhan. Keep istiqomah!
Wallohua’lam bisshowwab
Diposting oleh farohis di 01.57 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Ramadhan, tarbiyah

Sabtu, 22 Juni 2013

LIFE IS NOT FAIR!!!


by: Rizal 
Mengapa harus jadi yang terbaik??? Karena saya perlu memberi tahu satu hal. Dunia ini tidak adil kawan!! Dunia selalu memperhatikan sebagian orang sementara benar benar cuek tehadap sebagian yang lain.
Coba lihat, dunia selalu berpihak pada orang yang istimewa dan tak pernah berpihak pada yg biasa. Ingat pembahasan kita tentang keberuntungan? Itulah salah satu contohnya. Kita bisa melihat contoh lain lagi yang sangat banyaak.

Seorang yang jam terbang dakwahnya banyak akan mendapatkan peluang lebih banyak untuk kembali mengisi kajian dibandingkan seorang yang jam terbangnya lebih sedikit. Kenapa???? Logikanya yang jam terbangnya banyak jelas memiliki banyak koneksi dan referensi sehingga kemungkinannya lebih besar kembali mengisi kajian. Jadilah yang tinggi jam terbangnya semakin tinggi, sementara yang tak punya jam terbang semakin kandas.

Ketika kita hendak makan pagi, kita dihadapkan pada dua warung pecel dengan resep masakan  yang sama, namun yang satu ramai pembeli, sementara yg lainnya kosong melompong. Kira-kira yang mana yang  akan anda pilih??? Kebanyakan orang akan memilih yang ramai. Mengapa?? Logikanya, orang akan berpikir “tidak mungkin seramai itu org, semua lidahnya salah! Pasti lebih enak yang ramai”. Jadilah yang ramai bertambah ramai dan yang sepi semakin menepi.

Kita mengingat bahwa orang yang ‘tidak cerdas’ tidak akan mau menghabiskan uang membaca buku, karena makanan lebih baik bagi mereka, mereka anggap makanan lebih memberikan efek nyata. Karena tidak membeli dan membaca buku makin tidak cerdas. Semakin ‘tidak cerds’ seorang makin malas pula dia untuk membeli dan membaca buku. Demikian seterusnya dan demikian pula sebaliknya. Membaca buku adalah sejenis bentuk ketagihan seperti spiral melebar terus membesar satu buku akan menganjak pada dua buku dua buku pada tiga buku, dan seterusnya.

Selama tidak ada gaya luar yang merubah, maka semakin lama ia akan semakin besar. Sayangnya hal ini tidak hanya berlaku pada sesuatu yang baik, namun juga sesuatu yang buruk.
Dari ketiga contoh diatas tersebut, tidak melakukan sesuatu atau menambahkan gaya luar untuk menghentikan spiral itu, maka selama-lamanya akan berada dilingkaran ‘kesialan’ itu.

Diposting oleh farohis di 08.34 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Kamis, 04 April 2013

Mengapa ‘Harus’ Menulis??


by: Sigit (farohis '12)
Menulis merupakan suatu kegiatan yang sudah tidak bisa dipisahkan lagi dari peradaban umat manusia. Kehadirannya tak pelak menjadi suatu tolak ukur bagi kemajuan peradaban. Betapa tidak, dengan tulisan sejarah dapat direkam, dengan tulisan pengetahuan dapat disimpan, pesan dapat disampaikan, ide dapat disebar luaskan, dan masih banyak lagi.
Ingat dengan R.A. Kartini? Apa yang membuatnya begitu dikenal hingga kelahirannya diperingati sebagai hari Nasional? Setuju atau tidak, sedikit banyak beliau mulai dikenal dunia luas setelah menuliskan “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Dan luar biasanya idenya yang dituangkan dalam tulisan cepat sekali menyebar dan merubah paradigma masyarakat luas. Masih ingat dengan Karl Marx dan Adolf Hitler? Melalui tulisannya mereka mengubah sebagian dunia dan menimbulkan satu polemik yang mengguncang dunia (komunis dan naziisme). Sering sekali kita jumpai revolusi besar dari suatu masyarakat yang berawal dari munculnya tulisan/buku daru tokoh-tokoh di zamannya.
Sebenarnya dalam peradaban Islam pun budaya tulis-menulis telah mendarah daging dan berperan besar dalam memajukan peradaban umat. Ya, meskipun Rasulullah SAW sendiri ummiy(tidak dapat membaca dan menulis) namun bukan berarti islam menolak tulisan,  keummiyan Rasulullah SAW justru menjadi bukti kebenaran wahyu. Di antara sahabat-sahabat Rasulullah sendiri banyak yang menjadi penulis ulung yang berperan besar merekam kehidupan umat Islam di masa Rasulullah dan para shahabatnya.
Bila kita lihat di dalam sejarah periwayatan hadist misalnya, kita akan tercengang dengan kelengkapan dan validitas hadist-hadist yang dituliskan para ahli hadist. Bagaimana mungkin kehidupan seseorang bisa terekam sebegitu detailnya dengan tingkat keshahihan yang bisa dipertanggungjawabkan!? Satu ulama ahli hadist bisa mengumpulkan ratusan ribu hingga jutaan hadist!! Kemudian bila kita melihat di era Imam Madzhab, peran tulisan sangat mempengaruhi kebesaran dan kelestarian madzhab.
Seperti kita ketahui, sebenarnya madzhab di zaman itu tidak hanya ada empat. Namun yang membuat keempat madzhab besar bertahan adalah karena banyak murid-muridnya yang menuliskan kembali pemikiran-pemikiran sang Imam, dan ini diwariskan terus menerus hingga sekarang masih mampu bertahan. Imam syafi’i berkata “Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya, ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Termasuk kebodohan bila engkau memburu kijang, setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja.”(Diwan asy-Syafi’i)
Di zaman itu banyak ulama-ulama yang menuliskan kitab yang tingkat keshahihannya tidak diragukan lagi dan muatannya pun berkualitas tinggi. Bahkan dikisahkan ketika itu, khalifah mengganti kitab-kitab yang mereka buat dengan emas  seberat kitab karangan mereka. Kitab-kitab tersebut kini masih dipelajari di pondok-pondok pesantren klasik. Inilah satu keajaiban lagi dari tulisan, dengan tulisan ilmu yang sudah beratus-ratus tahun masih bisa diwariskan, bahkan dengan pemahaman yang nyaris sama.
Bila ilmu hanya disampaikan dari lisan ke lisan mungkin akan terjadi perbedaan yang besar. Sedangkan tulisan itu tetap, dari tahun ke tahun pun tidak akan berubah (kecuali ada yang merubah) sehingga ilmu akan lebih mudah dan mampu disimpan dengan baik. Satu kelebihan lagi, tulisan mampu menyebar ke segenap penjuru, dapat dibaca kapan pun ia mau, dapat diulang-ulang dan ditelaah lagi di waktu yang lain.
Dengan kitab Ihya’nya(Imam Ghazali) , muncullah tokoh seperti Shalahuddin al Ayyubi yang membawakan kemenangan umat Islam dan mengembalikan Al-Quds ke tangan umat muslim dalam Perang Salib. Dengan tulisan, orang-orang seperti Yusuf Mansur, Salim A. Fillah, Ippho Right, Andrea Hirata mulai dikenal masyarakat luas dan banyak merubah paradigma mereka. Tak salah bila dikatakan “Pena lebih tajam dari mata pedang”. Dengan tulisan, seseorang mampu menaklukkan dunia,mengubah dan menguasai pemikiran masyarakatnya. Dahsyat!
Jadi mengapa tidak mulai menulis?? Ada yang beralasan “nulis bukan hobi saya!”
Hey, sejak kapan ente jauh dari tulis-menulis? Saat kuliah, dapat materi dari dosen kita tulis! Membuat laporan praktikum juga ‘harus’ nulis! Pengen ikut PKM juga ‘kudu’ nulis! Pengen lulus, bikin skripsi pun harus nulis! Nggak perlu jauh-jauh deh, ente buat status di fb pun sudah termasuk nulis! Jadi sejak kapan nggak bisa nulis???
Menulis bisa dikatakan ketrampilan dasar yang harus dimiliki oleh setiap individu, apalagi di zaman yang informasi cepat sekali tersebar ini. Mereka yang menguasai tulis-menulis akan menguasai opini masyarakat. Ingat dengan trending topik twitter? Dengan menulis sedikit saja dan membuat hashtag, seorang bisa menyalurkan idenya ke segenap penjuru dunia. Dahsyat!
Sudah selayaknya setiap individu melatih kemampuan menulisnya. Banyak-banyak membaca merupakan satu cara untuk meningkatkan kualitas tulisan. Bila sering membaca, otomatis referensi akan semakin luas, dan pilihan kata pun semakin beragam. Hampir kebanyakan mereka yang pandai menulis, di sisi lain juga merupakan pembaca yang gigih. Hal ini bisa dilihat dalam penerbitan buku, dalam satu buku sering kita jumpai di daftar pustaka terdapat banyak buku yang dijadikan referensi.  
Jadi, banyak-banyaklah membaca dan tetap dilatih menulisnya..
Yuk belajar nulis!!! ^^
Diposting oleh farohis di 04.15 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: buku, kitab, media, menulis, peradaban

Sabtu, 30 Maret 2013

Masih sering LABIL-kah kita???



by: Heni (farohis '12)
Teman-teman pernah merasakan iman kita dalam keadaan sebaik-baiknya, berada dalam level tertinggi, ingat kehidupan akhirat, ingat akan dosa-dosa kita, takut akan siksa-Nya atau malah sangat turun drastis??? Terlena dengan kebahagiaan sesaat, berfoya-foya, bersombong atas diri sendiri, memanfaatkan waktu dengan kegiatan yang tidak bermanfaat, merasa seakan-akan kita akan hidup selamanya di dunia???

Hmm, itulah manusia. Kadang ada saatnya ingat, terkadang ada saatnya lupa. Mungkin ketika ada masalah, kita merasa lemah, tidak berdaya dan menginginkan tempat bersandar yaitu Allah SWT. Namun ada kalanya juga ketika hidup kita sudah berjalan normal, rezeki sudah berlebih, kebahagiaan sudah kita nikmati, cita-cita telah tercapai tapi ternyata kita justru lupa dengan Sang Pemberi. Kita malah berfoya-foya, menghambur-hamburkan uang, menghabiskan waktu dengan kegiatan yang tidak bermanfaat, lupa tidak bersyukur bahkan terkadang kita terlena akan aktifitas kita sehingga meninggalkan kewajiban dan ibadah kita. Astagfirullah.

Menurut artikel yang pernah aku baca, pengaruh naik turunya iman kita banyak sekali. Ada pengaruh dari dalam diri kita sendiri, ada juga pengaruh dari luar, seperti lingkungan tempat tinggal, teman bergaul dll.

Pertama pengaruh dari dalam diri kita sendiri, misalnya ketika kita mengikuti pengajian-pengajian, kegiatan yang di dalamnya terdapat acara renungan (mungkin ini sudah sering kita alami baik dalam kegiatan-kegiatan di SMA dulu, maupun kegiatan di kampus teman-teman saat ini) saat kita hanyut dalam kekhusyukan beribadah, ingat mati, ingat akan dosa-dosa yang selama ini telah di lakukan maka yang kita rasakan adalah selalu ingat pada-Nya.

Sebaliknya kita akan lupa saat keinginan kita, do’a dan harapan kita telah dikabulkan-Nya, rezeki yang cukup, maka kita terlena dan lupa akan kewajiban-kewajiban kita kepada-Nya. Disitulah saat kondisi iman kita naik turun yang pengaruhnya dari dalam diri kita sendiri.

Yang kedua, pengaruh dari luar. Misalnya, saat kita mendengarkan ceramah, membaca buku-buku islami, melihat bencana alam di sekitar kita maka iman kita pun tumbuh seiring tergugahnya jiwa rohani kita. Sebaliknya, ketika teman-teman kita mengajak bersenang-senang, larut dalam kebersamaan melaksanakn hobi, membicarakan keburukan-keburukan orang lain maka setan akan dengan mudahnya membisikan ajakan-ajakan untuk meninggalkan kewajiban dan mengacuhkan larangan-Nya. Disinilah pengaruh dari luar berperan.
Nah, apakah kita temasuk orang yang masih sering merasa ”LABIL” ???
Iman kita masih sering naik turun??
Semua jawaban ada pada diri teman-teman sendiri.

Lalu, bagaimana CARA agar keimanan kita tersebut tidak terlalu sering turun??

Lagi-lagi menurut artikel yang aku baca (Maklum, masih membutuhkan banyak referensi untuk menjadikan tulisan ini bermanfaat :D). Masih banyak lagi tentunya cara-cara yang bisa kita lakukan untuk menyikapi keadaan LABIL ini (teman-teman bisa searching sendiri..hehehe)

Maka jawabanya adalah STABILKAN tingkat iman kita pada tingkat yang mendekati tinggi, upayakan tingkat iman terendah kita pada posisi pertengahan, dan selebihnya raihlah tingkat iman tertinggi kita dengan selalu bercermin pada orang-orang sholeh disekitar kita.

”Iman itu kadang naik kadang turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan la ilaha illallah”(HR.Ibnu Ibban)

Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung karena kesabaranya berjuang menjaga iman dan mempertahankan iman. AmiinKeep Istiqomah KAWAN. :)
Diposting oleh farohis di 06.15 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: istiqomah, labil

Jumat, 29 Maret 2013

ORANG PINTAR



by: Danang (farohis '12)
HARI ini, Jumat, 29 Maret 2013 sepeti hari jumat-jumat lain, aku malaksanakan kewajibanku sebagai seorang muslim pergi menunaikan ibadah shalat jumat berjamaah. Tapi ada yang unuik pada jumat kali ini, pertama aku shalat jumat di masjid al-barokah, ini adalah masjid yang terletak di sisi barat asrama UI, padahal aku biasanya shalat jumat di masjid yang di belakang asrama, namanya aku lupa.. hehe J muali dari awal berangkat, dengan langkah yang tak pasti, karena niatannya emang nyari suasana baru, akhirnya clingak-clinguk memperhatikan kanan-kiri memperhatikan orang lain yang mau pergi ke masjid, ya Karena aku belum tau posisi masjid tersebut di atas tadi. Akhirnya sampailah di masjid Al-Barokah tadi.

Aku pun msuk dan shalat 2 rakaat sebagai pentuk penghormatan atas rumah Allah, shalat sunnah masuk masjid (kalo gk salah gitu). Dan upacara shalat jumat dimulai, diawalai dengan pengumuman tetnatang, pertama himpauan agar meluruskan shof waktu shalat dan mengisi posisi shof yang depannya agar nanati kalo yang dating belakangan tidak lewat-lewat di depan kita. Kedua, tentang khotib dan imam, ketiga tentang pengumuman pengajian kuliah subuh besok sabtu, keempat, tentang larangan bagi anak-anak untuk berlari-larian saat khitob khutbah, dan terahir tentang men-cilent hp. Demikian pengumuman yang berlangsung hampir kurang lebih 5 menit. Kemudian khotib naik mimbar member salam, dan muadzin mengumandangkan adzan. Ini adalah prosedur Upacara Shalat Jumat bukan ala ketika aku di kampung yang memakai 2 adzan.

Kemudian apa hubungannya dengan judulnya “ORANG PINTAR”. Nah setelah ini kan masuk acara inti nih, khutbah jumata. Disinilah yang saya maksudkan dengan judul di atas, “orang pintar” adalah inti dari khutbah jumat kali ini. Ya walaupun judul yang dibilang oleh khotib bukan orang pintar sih, itu hanya kesimpulan yang saya ambil secara pribadi, hehe :D . Lalu apa yang dimaksud dengan orang pintar dalam konteks kali ini? Nah, ini jawabannya… J

Khotib berkata bahwa Rosulullah SAW pernah bersabda (tidak tepat kaya gini kalimatnya, hanya sata sampaikan apa yang tertangkap di pikiran saya) bahwa orang yang pandai adalah orang yang ingat akan kematian dan ia mempersiapkan dirinya untuk kehidupan akhirat kelak. Mungkin kita sudah ribuan kali mendengar jargin “ingat mati setiap saat” tapi itu memang benar. Kita hidup semua yang hidup di dunia pasti akan menghadapi kematian. Seperti hanya firman Allah SWT dalam QS. Al ankabut 29 ; 57



57. tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.

Sehingga sebagai hamba makhluk hidup, kita harus mempersiapkan diri kita sebaik-baiknya untuk menyambut kematian tersebut. Karena apa? Kita hidup si dunia ini hanya sebentar, rata-rata bagi orang Indonesia hanya sekitar 60-70 tahun sedangkan kehidupan di alam akhirat adalah SELAMANYA. Sehingga dengan waktu yang singkat itu, kita mesti mempersipakannya sebaik mungkin. Tapi kita pasti bertanya-tanya, bagaimana cara mempersiapkannya? Apa yang harus dilakukan?? Bingun kan..? pasti bingung, saya aja juga bingung waktu baut tulisan ini, hehe J . caranya sebenarnya mudah, cukup dengan taqwa.

Apa yang dimaksud taqwa? Taqwa secara sederhana adalah menjalankan apa-apa yang Allah Perintahkan dan menjauhi apa-apa yang Allah larang. Cukup mudah bukan, ternyata tidak.  Untuk bertaqwa, hal yang pertama yangmesti kita punya adalah  iman. Iman sendiri berarti percaya, percaya pada apa? Tentu saja percaya tentang keberadaan Allah sebagai pencipta kita, sang kholiq. Tapi saya sendir merasa bahwa menjaga kualitas iman agar tetap baik itu sangatlah mudah, jika dalam bahasa praktikum fisika dasar, iman itu selalu mengalami fluktuasi,  naik turun tak menentu. Akhirnya saya putuskan untuk bertanya kepada seorang sahabag “gmn sih cra menjga iman agr tetp baik itu” (maklum lwt sms itu tanyanyaJ). Sahabatku tersebut menjawab, “wah susah jg itu buatku sobat… iman itu memang naik trun sih, perbnyak istqfar aja sob, hmm ngaji itu jg penting, tolabul ‘ilmi, walaupun memang banyak golongan yg bikin pusing, lakukan sgala sesuatu ikhlas krn Allah, ortu itu jga duniawi lho, coba deh terkadang saat lagy galau kyk ngomong sendiri ke Allah, insyaAllah bkalan lbh lega kok sob, (y) “

Gmn, super sekali bukan… J  trus satu lagi pertanyaan, kapan sih kamtian itu dating? Nah, ini akan terjawab dengan menengok QS. Al Luqman 31:34



34. Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok[1187]. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

[1187] Maksudnya: manusia itu tidak dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok atau yang akan diperolehnya, Namun demikian mereka diwajibkan berusaha.

Nah, itu jawabannya, kematian itu bisa dating kapan saja, dimana saja, dan menimpa siapa saja tanpa pandang bulu. Ketika telah tiba gilirannya mati, maka tak ada yang dapat mencegahya. Oleh karena itu orang yang pintar adalah orang yang senantiasa memperispkan dirinya untuk mempersiapkan kematian yang bisa dating kapan saja. Sehingga diharapkan setiap saat kita selalu ingat mati.

Tapi walau sebenarnya yang terpenting bukan ingat pada kematiannya sih, tapi lebih pada ingat kepada sang kholiq, Allah SWT. Itu hanya sebagai sarana pembantu. Dan tujuan kita hidup dan diciptakan adalah juga untuk menyembah kepada pencipta kita, serta nikmat yang paling besar ketika di akhirat itu bukanlah surge, melainkan tdi itu… berjumpa dengan pencipta kita, sang kholiq, ALLAH SWT.
### SEKIAN ###


danser
57. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.
Diposting oleh farohis di 07.16 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: fluktuasi, ingat mati, pintar

Senin, 18 Maret 2013

Hukum Pacaran ??



By: Sigit (farohis '12)
Keragu-raguan sering menghambat seseorang untuk menjalankan atau meninggalkan suatu jenis perbuatan. Demikian pula yang dialami remaja muslim kini, keraguan akan halal/haramnya pacaran membuat kebanyakan mereka tetap tenang-tenang saja menjalin hubungan dengan cara satu ini. Lalu bagaimana sebenarnya Islam memandang pacaran? Halal/haram? Mari kita telaah baik-baik.
Pertama, pacaran dapat tergolong dalam tindakan ‘mendekati zina’ yang jelas sekali larangannya. Sebagaimana ayat Al-Qur’an yang berbunyi:
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Isra ayat 32)
Tak jarang kita temui remaja yang pada akhirnya terjebak dalam zina setelah berpacaran. Betapa banyak kita jumpai muda-mudi yang married by ‘accident’ lantaran kebablasan pacaran. Na’udzubillah! Inilah mengapa kita golongkan pacaran sebagai satu perbuatan yang mendekati zina. Mendekati saja dilarang apalagi terang-terangan berzina!?
Lebih dari itu dalam beberapa hadist dikatakan zina itu ada bermacam-macam, bukan hanya zina farji.
Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah menetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina-zina. Maka zinanya mata dengan memandang (yang haram), zinanya lisan dengan berbicara. Sementara jiwa itu berangan-angan dan berkeinginan, sedangkan kemaluan yang membenarkan semua itu atau mendustakannya.” (HR Al-Bukhori no 6243 dan Muslim no. 2657)
Memandang saja bisa jadi haram bila tidak tahu ilmunya.
“Katakanlah (Muhammad) kepada laki-laki yang beriman, ‘hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’ Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman, ‘hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka…” (An-Nur ayat 30-31)
“Aku pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang pandangan tiba-tiba (tanpa sengaja), maka beliau memerintahkan aku untuk memalingkan pandanganku.” (HR Muslim no. 5609)
Lalu bagaimana dengan orang yang pacaran? Bagi mereka saling memandang sudah menjadi hal biasa, bahkan mungkin tergolong dalam hal paling sepele yang biasa dilakukan orang berpacaran. Sebagian mereka bahkan sudah membiasakan diri dengan pegangan tangan, peluk-pelukan bahkan bangga bila sudah mampu ‘ciuman’.Na’udzubillah! Padahal berjabat tangan dengan bukan mahramnya sudah tergolong satu perbuatan yang diharamkan.
Dari Ma’qil bin Yasar bin Nabi SAW, beliau bersabda, “Sesungguhnya ditusuknya kepala salah seorang dari kamu dengan jarum besi itu jauh lebih baik daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Thabrani dan Baihaqi)
Dari Asy-Syabi bahwa Nabi saw. ketika membai’at kaum wanita beliau membawa kain selimut bergaris dari Qatar lalu beliau meletakkannya di atas tangan beliau, seraya berkata, “Aku tidak berjabat (baca: menyentuh) tangan dengan wanita.” (HR Abu Daud dalam al-Marassi)
Dari dalil-dalil di atas tentunya bagi orang yang benar-benar mengharapkan kebenaran telah mengetahui secara pasti bagaimana hukumnya pacaran. Yang jadi pertanyaan harusnya bukan lagi mengenai halal-haramnya pacaran namun bagaimana menjauhkan remaja muslim kita dari budaya yang telah jelas kemudharatannya ini. Wallohu a’lam bisshawwab

Diposting oleh farohis di 21.35 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: hukum, mendekati zina, pacaran

Minggu, 17 Maret 2013

ENGKAU & HAWA NAFSU


by: Rizal (farohis '12)

      Seorang muslim haruslah merenung dan selalu introspeksi mengenai pengaruh hawa nafsu terhadap dirinya Andaikan sampai berita kepadamu bahwa seseorang mencaci maki Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Kemudian orang lain mencaci Nabi Daud Alaihis Salam. Sedangkan orang yang ketiga mencaci maki Umar atau Ali Radhiallahu 'anhuma, dan orang yang keempat mencaci maki gurumu, serta orang yang kelima mencaci maki guru orang lain.

      Apakah kemarahan dan usahamu untuk memberikan hukuman dan pelajaran kepada mereka  telah sesuai dengan ketentuan syariat? yaitu, kemarahanmu kepada orang pertama dan kedua hampir sama. Tetapi jauh lebih keras jika dibandingkan dengan yang lainnya. Kemarahanmu kepada orang ketiga harus lebih lunak dibandingkan dengan yang awal, akan  tetapi harus lebih keras dibandingkan dengan yang sesudahnya. Kemarahanmu kepada orang keempat dan kelima hampir sama, akan  tetapi jauh lebih lunak jika dibandingkan dengan yang lainnya. 

      Misalkan engkau memperhatikan suatu masalah dimana ulama idolamu mempunyai suatu pendapat tentangnya, dan ulama lain menyalahi pendapat tersebut. Apakah hawa nafsumu yang lebih berperan dalam mentarjih (menguatkan) salah satu dari dua pendapat tadi ? Ataukah engkau menelitinya supaya dapat diketahui mana yang lebih rajih diantara keduanya dan engkau dapat menjelaskan  kerajihannya tersebut. (Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid mengomentari ucapan diatas: "Janganlah sekali-kali engkau mencari yang rajih bagi salah satu dari dua pendapat itu semata-mata karena orang yang mengucapkan adalah orang yang engkau kagumi.

      Perbuatan ini adalah perbuatan muqallid yang jumud. Hati-hatilah kamu jangan seperti mereka  ! Dan merupakan karunia Allah Shuhanahu wa Ta'ala, banyak dari umat ini yang telah meninggalkan fanatik madzhab, akan  tetapi datang penggantinya yang  lebih dahsyat dan lebih memilukan, yaitu fanatik kelompok ! Kami memohon pertolongan kepada Allah, dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolonganNya." 

      Misalkan pula engkau membaca sebuah ayat maka nampak bagimu bahwa ayat tersebut sesuai dengan ucapan ulama idolamu. Kemudian engkau membaca ayat  yang lain dan nampak olehmu  dari ayat  tersebut menyalahi ucapan yang lain dari ulama tersebut. Apakah engkau berusaha mencari kejelasan tentang dua ayat  tersebut yaitu dengan mengkajinya secara seksama, ataukah engkau bersikap tidak perduli, dan tetap taklid kepada ulama idolamu tadi ?

      Misalkan pula ada seseorang yang engkau cintai dan yang lain engkau membencinya. Keduanya berselisih dalam suatu masalah, kemudian engkau dimintai pendapatmu oleh orang lain tentang perselisihan tersebut. Ketika engkau meneliti permasalahan tersebut, apakah hawa nafsumu yang berperan sehingga engkau memihak orang yang engkau cintai?

      Misalkan pula engkau mengetahui seseorang berbuat kemungkaran dan engkau berhalangan untuk mencegahnya. Kemudian sampai berita kepadamu ada orang lain yang mengingkari orang tersebut dengan kerasnya. Maka apakah anggapan baikmu terhadap pengingkaran tersebut akan  sama apabila yang mengingkari itu temanmu atau musuhmu, begitu pula bagaimana sikapmu apabila yang diingkari itu temanmu atau musuhmu?

      Periksalah dirimu ! Engkau akan  dapatkan dirimu sendiri ditimpa musibah berupa perbuatan maksiat atau kekurangan dalam hal dien. Juga engkau dapati orang yang kau benci ditimpa musibah berupa perbuatan maksiat dan kekurangan lainnya dalam syariat yang tidak lebih berat dari maksiat yang menimpamu. Maka apakah engkau dapati kebencian kepada orang tersebut sama dengan kebencianmu terhadap dirimu sendiri? Dan apakah engkau dapatkan kemarahanmu kepadanya?

      Sesungguhnya pintu-pintu hawa nafsu tidak terhitung banyaknya. Saya mempunyai pengalaman pribadi ketika memperhatikan satu permasalahan yang saya anggap hawa nafsu tidak ikut campur didalamnya. Saya mendapatkan satu pengertian dalam masalah tersebut, lalu saya menetapkannya dengan satu ketetapan. Setelah itu saya melihat sesuatu yang membuat cacat ketetapan tadi, tetap saja saya gigih mempertahankan kesalahan tersebut dan jiwaku menyuruhku untuk memberikan pembelaan dan menutup mata, serta menolak untuk mengadakan penelitian lebih lanjut secara mendalam. Hal ini dikarenakan ketika saya menetapkan pengertian pertama yang saya kagumi itu, hawa nafsu saya condong untuk  membenarkannya. Padahal belum ada seorangpun yang tahu akan  hal ini. Maka bagaimana jika sekiranya hal tersebut sudah saya sebar luaskan ke khalayak ramai, kemudian setelah itu nampak olehku bahwa pengertian tersebut salah? 

      Bagaimana pula apabila kesalahan itu bukan saya sendiri yang mengetahuinya melainkan orang lain
 yang mengkritikku? Maka bagaimana pula jika orang yang mengkritik tersebut adalah orang yang aku benci? Hal ini bukan berarti bahwa seorang muslim dituntut untuk tidak mempunyai hawa nafsu, karena hal ini diluar kemampuannya. Tetapi kewajiban seorang muslim adalah mengoreksi diri tentang hawa nafsunya supaya dia mengetahui kemudian mengekangnya dan memperhatikan dengan seksama dalam hal kebenaran sebagai suatu kebenaran. Apabila jelas baginya bahwa kebenaran itu menyalahi hawa nafsunya, maka dia harus mengutamakan kebenaran daripada mengikuti hawa nafsunya.

      Seorang muslim terkadang dalam mengawasi hawa nafsunya. Ia bersikap toleran terhadap kebatilan sehingga akhirnya ia condong kepada kebatilan dan membelanya. Dia menyangka bahwa dirinya menyimpang dari kebenaran. Dan menyangka bahwa dirinya tidak sedang memusuhi kebenaran. Dan ini hampir tidak ada yang selamat darinya kecuali orang yang dipelihara oleh Allah Shuhanahu wa Ta'ala.

      Hanya saja manusia bertingkat-tingkat dalam sikapnya terhadap hawa nafsu. Diantara mereka  ada yang sering terbawa arus hawa nafsunya sampai melampaui batas sehingga orang yang tidak mengetahui tabiat manusia dan pengaruh hawa nafsu yang demikian besar menyangka bahwa orang tadi melakukan kesalahan yang fatal dengan sengaja. Diantara manusia ada yang dapat mengekang hawa nafsunya sehingga jarang mengikuti hawa nafsunya. Oleh sebab itu barangsiapa yang sering membaca buku-buku dari penulis yang sama sekali tidak menyandarkan ijtihad mereka  kepada Al-Qur'an dan As Sunnah, maka dia akan  mendapatkan  banyak keanehan. Hal ini tidak mudah diketahui kecuali oleh orang-orang yang hawa nafsunya tidak condong kepada buku-buku tersebut, tetapi condong kepada kebenaran. Kalau hawa nafsunya cenderung kepada buku-buku tersebut bahkan ia sudah dikuasai hawa nafsunya, maka dia menyangka bahwa orang-orang yang sependapat dengannya itu terbebas dari mengikuti hawa nafsu, sedangkan orang-orang yang bertentangan dengannya adalah orang-orang mengikuti hawa nafsu. Orang salaf dahulu ada yang  berlebihan dalam mengekang hawa nafsunya sampai ia terjerumus ke dalam kesalahan pada sisi yang lain. 

      Seperti seorang hakim yang mengadili dua orang yang berselisih, orang yang pertama adalah saudara kandungnya sedangkan yang kedua adalah musuhnya. Ia berlebihan di dalam mengekang hawa nafsunya sampai ia mendzalimi saudara kandungnya sendiri. Ia seperti orang yang berjalan di tepi jurang yang curam di kanan kirinya, berusaha menghindar jurang yang disebelah kanannya namun berlebihan sehingga ia terjatuh ke dalam jurang yang disebelah kirinya.
Sumber :

Ma laa yasa'u Al Muslimu Jahluhu min Dhzruriyat At Tafakkur (Nukilan dari buku "Al Qaid Ila Tashih Al Aqa'id")

Diposting oleh farohis di 18.03 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: hawa nafsu, marah

As-Sunnah???


by: Ninik(farohis '12)
Bismillahhirrohmanirrohiim….
 “Sesungguhnya orang2 yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati merekaa, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal”[ QS. Al-Anfal 8: 2]
 “Katakanlah (Muhammad), Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Rosul), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [QS. Al-Imron: 31]
Saat Pelajaran Agama Islam di SMA kita sudah belajar mengenai 3 sumber hukum Islam, antara lain: Al Qur’an, Al Hadist/As-Sunnah dan Itihad. Nah disini kita akan mengulas mengenai Sunnah. Temen-temen tau gak apa itu Sunnah? Jangan2 sudah berislam selama hampir 20 tahun kita gak tau lahgi apa yang dimaksud dengan sunnah. Atau malah kita cuman denger apa yang dinamakan sunnah itu waktu khotbah atau pengajian di masjid? Atau jangan2 kita sering berpikir, buat apa sih ada sunnah segala! Toh ada Al Qur’an. Na’udzubillah…
Sunnah itu adalah segala yang datang dari Nabi Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam baik berupa ucapan, maupun perbuatan dan sifat. As-Sunnah dalam kehidupan kita sebagai seorang muslim sangatlah penting. Allah telah berfirman dalam Al Qur’an;
 “Barangsiapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah……” [QS. AnNisa’:80]
 “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasululloh itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” [QS. Al-Ahzab: 21]
Allah  telah menyebutkan secara tegas pada kedua ayat diatas betapa pentingnya sunnah itu. Sifat2 Rosululloh yang merupakan suri tauladan dapat menuntun kita menjadi pribadi muslim yang insyaAlloh bermanfaat dunia akhirat.
Bagaimana syariat2 Islam seharusnya dilaksanakan dapat pula kita pelajari dari As-Sunnah. Misal, dalam beberapa ayat Allah telah memfirmankan kepada umat muslim untuk sholat. Namun pada AlQur’an sendiri tidak disebutkan apa yang dimaksud dengan sholat itu sendiri. Nah, ini nih fungsinya dari As-Sunnah., sebagai penjelas dari Al Qur’an.  Dalam berbagai hadist baik yang shohih maupun yang hasan/jayyid (baik), Rosululloh menunjukkan berbagai gerakan sholat yang ahsannya ditiru oleh umat muslim sedunia.
Serta bagaimana seharusnya sikap seorang muslim dapat kita pelajari dari sifat2 Rosululloh. Adab makan, adab masuk dan keluar kamar mandi, adab tidur. Adab2 ini memiliki segi positif. Hmm, contohnya buat temen-temen yang tidurnya ngorok nih. Tenang aja, gak usah susah2 buat akupuntur atau minum obat-obatan untuk menghilangkannya. Cukup satu hal yang perlu anda lakukan, tidurlah dengan menghadap kearah kanan, insyaAllah akan hilang dengan sendirinya. Inilah salah satu , keutamaan dari mengikuti sunnah Rosul. *dikutip dari kata2 Ust.Arifin Badri 
Jikalau kita membaca siroh nabawi maupun sirah sahabat kita akan lebih tau mengenai  sifat Rasululloh yang benar2 menyentuh hati pembacanya. Subhanallah, betapa Islam ini telah memberikan yang terbaik bagi setiap pengikutnya dan begitu banyak manfaat dalam berbagai segi. Allohu’alam.
“Tidak akan beriman salah seorang dari kalian, sampai aku (Rosul) ini dicintai melebihi bapaknya, anaknya, dan seluruh manusia” (HR. Muslim dan Bukhori)

Diposting oleh farohis di 01.46 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: adab, Rasulullah, sunnah, suri tauladan

Jumat, 08 Maret 2013

Mukmin Musiman

by: Sigit(farohis '12)

Pernah liat pedagang musiman? Saat musim rambutan dia jualan rambutan. Saat bulan puasa ganti jualan kurma. Saat musimnya lebaran ganti lagi jadi penjual petasan. Jadi mirip bunglon ya? bisa berganti-ganti profesi sesuai tuntutan zaman :D

Memang mungkin bisa dapat keuntungan cukup banyak. Namun bagi orang China (yang katanya mahir dagang) bisnis seperti ini tidak akan berkembang. Lebih baik bisnis kecil-kecilan tapi konsisten ketimbang harus berganti-ganti seperti pedagang musiman. Kenapa? Karena bisnis yang kecil masih memungkinkan untuk terus berkembang menjadi besar (naik level), sedangkan bisnis musiman bagaimana hendak berkembang bila tiap waktu ganti ‘muka’, otomatis tak punya ‘produk’ yang akan menjadi keunggulannya.

Yang kita bicarakan disini tak jauh berbeda dengan pembahasan pedagang musiman seperti di atas. Tak hanya pedagang, fenomena mukmin musiman pun akhir-akhir ini sering kita temui di kehidupan sekitar kita. Banyak yang sering bermuka dua ketika hidup di masyarakat. Kadang menampilkan sosok agamisnya, namun di lain kesempatan justru berbalik menyerangnya, yah sesuai tuntutan zaman seperti si pedagang musiman.

Walhasil, tak jarang kita temukan ketika bulan Ramadhan banyak artis yang turut berpenampilan islami, sampai-sampai membuatkan lagu religi. Namun di bulan-bulan lain kembali membuat lagu-lagu yang justru bertentangan dengan nilai-nilai islami, seakan-akan lagu religi sekedar sebagai dagangan musiman baginya. Tak jarang kita lihat aktivis muslim di parpol tertentu ketika datang hari raya idul fitri berbondong-bondong mengucapkan selamat, namun anehnya ketika datang hari raya agama lain pun dengan entengnya memberikan ucapan ‘selamat’ dengan dalih toleransi.

Tak jarang pula kita temukan pemuda yang menjalankan sholat lima waktu (masih mending menjalankan), namun ternyata berbuat curang saat ujian (mencontek, dll). Terkadang pula kita temukan akhwat yang sudah berjilbab namun masih saja ‘doyan’ pacaran. Bagi orang-orang liberal fenomena-fenomena seperti ini justru dijadikan amunisi untuk menyerang dan menjelekkan syariat Allah. Tidak benar pula, ketika yang salah manusianya namun yang disalah-salahkan malah syariatNya.

Allah telah menetapkan syariat sebaik-baiknya, namun kitanya saja yang masih belum memahaminya. Untuk itu penting sekali untuk menjalankan ayat yang satu ini  “Masuklah kedalam Islam secara menyeluruh” (Al Baqarah 208)

Ya, secara menyeluruh. Tidak setengah-setengah, tidak berubah-ubah. Seorang muslim harus teguh pada pendiriannya, harus teguh pada prinsip yang telah diimaninya. Seberat apapun resikonya, harus  tetap konsisten pada jalan kebenaran. Budaya sekulerisme, yakni pemisahan masalah agama dan dunia bukanlah dari islam dan tidak pernah sesuai dengan nilai-nilai islam yang luhur.

Jadi muslim tidak hanya ketika di masjid saja. Ketika jadi seorang pedagang ia tetaplah seorang muslim yang harus berdagang sesuai aturanNya. Ketika menjadi guru ia pun tetap menunjukkan identitas kemuslimannya. Pun ketika menjadi pejabat juga harus tetap jadi seorang muslim yang terus berusaha menerapkan setiap syariatNya. “Isyhaduu bianna muslimun”(persaksikanlah bahwa saya seorang muslim).

Masih ingat dengan kisah Bilal yang tetap teguh mengucap “Ahad, ahad, ahad” disaat ditimpa dengan batu dan diajak untuk mengkufuri agama Allah? Ingat ketika Nabi ditawari kafir quraisy untuk menghentikan dakwahnya lalu ditolak dengan tegas, walau diletakkan matahari di tangan kanan dan rembulan di tangan kirinya niscaya ia tidak akan menghentikan dakwahnya! Setinggi apapun jabatannya tetap bila dalam sholat berjamaah ia harus mengikuti imamnya. Sebesar apapun popularitasnya tetap ia punya kewajiban berbakti pada kedua orangtuanya.

Bagi seorang muslim sejati, agama ini, keimanan ini, lebih berharga dari apapun. Bahkan lebih berharga dari harta dan jiwanya sendiri. Hingga tidak sepantasnya ia menukar ketaatan padaNya dengan segala kenikmatan dunia. Semoga kita semua dijaga untuk tetap istiqamah dalam ketaatan padaNya. Aamiin

Diposting oleh farohis di 19.28 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: kaffah, mukmin, musiman

Sabtu, 16 Februari 2013

SURAT CINTA BUAT UKTHY BERKERUDUNG



  • copy paste nih ...


    Ini adalah unek-unek saya yang banyak dikecewakan oleh performa para muslimah yang nampak di depan kedua biji mata saya sehari-hari. Di tengah kegembiraan banyak orang yang melihat kerudung pada saat ini menjadi trending fashion banyak muslimah, saya sebenarnya gemas, kecewa, galau dan marah, tapi juga bingung.

    Pangkal kekecewaan saya adalah soal kesenjangan antara kerudung dengan gaya hidup mereka. Mengapa banyak muslimah yang berkerudung sekedar puas dengan berkerudung. Seolah-olah kerudung itu sudah babak final dalam penampilan dan lifestyle, kenapa mereka tidak mau meningkatkan kepribadian mereka, pemahaman mereka dan menjaga diri mereka? Kenapa? Kenapa? Please, somebody help me!

    Coba, pembaca pikirkan, bagaimana saya tidak bingung melihat seorang muslimah berkerudung tapi body mereka tampak melendung-melendung. Wajah manis berkerudung dalam balutan kemeja ketat yang kancingnya seolah mau meloncat karena ketarik bodi mereka yang sudah baligh, dan panggul ke bawah dililit jeans ketat – malah ada juga yang nekat pake legging (gubraaag) – sehingga ‘aset nasional’ mereka dikibarkan ke mana-mana.

    Ukhtiiiiii….! Maaf kalau saya sarkastis, tapi Anda ini kan muslimah, bukan hewan qurban yang dinilai dari bobot badan dan kemontokan tubuh. Sapi dan domba qurban sengaja di-display-kan dengan vulgar di pinggir jalan agar orang-orang yang mau berkurban ngiler untuk membelinya dan mengurbankannya untuk fakir miskin.

    Tapi ukhti kan muslimaaaah, bukan kambing qurban. Semakin Anda tertutup semakin ‘mahal’ harga ukhti di hadapan Allah, beda dengan hewan qurban yang semakin nampak sintal bodinya makin mahal harganya. Pahamkah kekesalan saya, ukhti?!Ini bukan berarti saya ini maho atau cowok KW. Bukan. Saya pria tulen.

    Saya senang dengan kecantikan dan keindahan wanita karena itu kodrat saya, tapi kan Allah melarang saya meneropong tubuh ukhti dari ujung rambut ke ujung jempol.
    Jadi, please, saya minta kerja samanya, jangan bikin hidup saya yang susah jadi tambah susah. Kalau memang ukhti cantik dan punya penampilan berkelas biarlah suami ukhty saja yang nanti berhak untuk melihatnya. Saya masih lelaki dan saya masih takut nambah saldo dosa.Pakaian ukhti bila keluar rumah adalah kerudung dan baju panjang yang kita sebut jilbab. Itu yang diperintahkan Allah kepada ukhti dan yang sekaum dengan Anda. Kalau ukhti senang dengan tank top, baby doll, mini skirt, atau hotpants ya silakan dipakai di balik jilbab ukhti. Tidak usah saya diajak mengintip semuanya.

    Saya juga gerah dan marah kala menyaksikan ada remaja berkerudung jadi alay-alay di layar kaca. Entah di acara In***, D*****t, atau yang sejenisnya. Sama saat saya juga geli dan ketawa garing ngeliat ukhti-ukhti berkerudung ngantri tiket Justien Biber atau Lady Gaga!

    Tapi bukan soal itu saja yang membuat emosi saya kadang meradang melihat ukhti dan teman-teman ukhti. Ada soal lain yang saya terus terang gerah dan jadi garang. Apa? Pacaran! Saya sering geleng kepala kalau sudah melihat akhwat berkerudung – apalagi berjilbab – berasyik masyuk dengan cowok yang bukan mahram dan suami juga bukan.Boleh percaya atau tidak, ukhti, saya pernah mendamprat – ini mungkin terlalu dramatisasi, tepatnya mempermalukan – sepasang kekasih di dalam angkot. Keduanya siswa almamater sekolah saya. Tapi yang bikin kepala panas adalah ceweknya berkerudung rapih dan cowoknya berjenggoooot (saya saja sampai sekarang belum sukses menumbuhkan jenggot!) Keduanya duduk di pojokan angkot dan tangan tuh cewek ada dipangkuan cowoknya sambil diremas-remas. !Astaghfirullah al-‘azhim!“Udah nikah, belum?” tanya saya panas.“Eh, belum, Pak?” jawab tuh cowok blingsatan sambil melepaskan tangan ceweknya. Untung nggak dilepaskan dari persendian badannya. Bla, bla, bla, saya nasihatin mereka berdua. Entah keduanya paham omongan saya atau tidak. Entah setelah itu mereka bubar pacaran atau malah menganggap sikap saya sebagai ujian.

    Di mana-mana saya sering lihat akhwat berkerudung berasyik masyuk dengan pacar-pacar mereka. Di atas motor Kawasaki Ninja yang keren ada akhwat yang lengket ke punggung cowoknya ( jadi ingat seseorang...siapa ya...). Karena tuh motor Jepang jok belakangnya nungging maka cewek berkerudung itu ikutan nungging dan makin bersandar ke punggung cowoknya. Mungkin sambil berpikir bangga ‘cowok gue motornya keren’. nggak peduli pada komentar orang-orang yang menyaksikannya. Saya sebaaal lihat ukhti seperti itu.

    Saya juga marah pada kawan saya yang pernah cerita kalau dia pernah diajak warga menggerebeg sepasang mahasiswa yang sedang mesum di malam hari di bulan suci Ramadhan. Ceweknya…..? Mahasiswi berkerudung! Coba bayangkan saudara-saudara, keduanya ketangkap basah sedang mesum di bulan Ramadhan pula! Saat orang berburu pahala, mereka malah saling berburu paha (tanpa la). Kalau mereka orang atheis, saya nggak bakal marah. Tapi dia berkerudung. Sad but true. Saya marah pada kawan saya itu kenapa story buruk kayak begini harus diceritakan pada saya. Bikin saya makin sebal pada ukhti berkerudung yang liar seperti itu. Tapi itu bukan satu-satunya cerita, masih banyak cerita yang serupa yang saya dengar dari kawan-kawan yang lain. Ada juga yang cerita kalau di antara cewek berkerudung itu ada yang jadi wanita panggilan. Malah katanya tarifnya premium call alias bisa lebih mahal karena kesannya eksotis dan reliji.Saya jadi bertanya; untuk apa sih ukhti berkerudung? Apa makna hijab dalam kehidupan ukhti? Tolong jawab 1 x 24 jam dari sekarang! Sering saya dengar ada kalangan yang bilang ‘jilbabi dulu hatimu sebelum tubuhmu’. Apa maksudnya? Sok berfilsafat tapi gajebo, ga’ jelas bo!

    Nanti para cewek yang pakai hotpants bisa berdalih ‘ mas, jangan lihat tubuh seksi saya, tapi rasakan hati saya yang berjilbab’ Pernahkah ketika ukhti memutuskan untuk berkerudung apalagi berjilbab merenung bahwa harus ada sebuah perubahan dalam hidup ukhti? Akan lebih terjaga, lebih dekat kepada Allah, dan lebih berani meninggalkan maksiat?Kekesalan itu saya tumpahkan di sini, biar ukhti baca kalau apa yang ukhti lakukan itu berbahaya, dosa dan merusak korps akhwat berkerudung dan berjilbab. Kalaupun ukhti tidak baca, saya berharap agar ada yang meng-copy paste tulisan ini dan sharing ke mana saja agar dibaca oleh ukhti dan yang se-alam dengan ukhti.

    Untuk ukhti yang sudah terlanjur membacanya dan marah-marah, saya harap agar malam nanti merenung; sudah benarkah gaya hidup saya? Percayalah, mencopot kembali kerudung bukan jawaban yang benar. Yang harus ukhti lakukan adalah terus menyelam dalam ajaran Islam yang indah dan menyejukkan ini. Banggalah sebagai akhwat berjilbab dan jagalah kehormatan diri sampai mati. That’s all, ukhti fillah!
    Ukhti ku Berkerudung...

    SUMBER : page Jangan Jadi Muslimah Nyebelin.
    Batal Suka ·  ·  · 7 November 2012 pukul 18:58 di sekitar Kota Yogyakarta
    • Dilihat oleh 19
      Anda menyukai ini.
    Opsi

Diposting oleh farohis di 16.32 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: nyebelin, surat cinta, ukhti
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Komentar (Atom)

Mengenai Saya

farohis
Lihat profil lengkapku

Arsip Blog

  • ▼  2013 (30)
    • ▼  Agustus (4)
      • Memang Tak Mudah untuk Mengingatkan
      • Selamat Idul Fitri 1434 H
      • Bukber Farohis: Semoga Menjadi Awal Perbaikan
      • Ramadhan Bulan Tarbiyah
    • ►  Juni (1)
      • LIFE IS NOT FAIR!!!
    • ►  April (1)
      • Mengapa ‘Harus’ Menulis??
    • ►  Maret (6)
      • Masih sering LABIL-kah kita???
      • ORANG PINTAR
      • Hukum Pacaran ??
      • ENGKAU & HAWA NAFSU
      • As-Sunnah???
      • Mukmin Musiman
    • ►  Februari (17)
      • SURAT CINTA BUAT UKTHY BERKERUDUNG
    • ►  Januari (1)
  • ►  2012 (3)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (2)

Pengikut

Translate

Tema Jendela Gambar. Diberdayakan oleh Blogger.